Minggu, 16 Maret 2014

Idealisme tak kaku

Ketika saya mengenal dunia pergerakan pertama kali, ada satu kutipan yang sampai sekarang selalu saya ingat dan saya pegang teguh ketika saya belajar di bangku perkuliahan maupun harus menjadi relawan ataupun menjalani kehidupan senormalnya mahasiswa. Saya kutip dari satu bait yang dikenal sebagai rumusan dari PPSDMS yaitu Idealisme Kami

"Kami tidak mengharapkan sesuatu pun dari manusia
Tidak mengharapkan harta benda atau imbalan lainnya
Tidak juga popularitas
Apalagi sekedar ucapan terima kasih"


Ketika malas, berat , bahkan sudah putus asa terhadap apa itu kuliah ataupun organisasi cuma perlu membaca mantra tersebut sebagai salah satu pemacu semangat bahwa "kita , seorang manusia hidup gak cuma hidup karena babi hutan pun juga hidup"  (Buya Hamka). Suatu waktu, yakinlah kita harus bertransformasi untuk tetap ada dan survive menjalani hakikatnya manusia sebagai pemimpin di muka bumi. Tuhan sudah menjanjikan ketetapan nya, apa lagi yang diragukan. Jadilah luar biasa itu pasti. :)

Cukuplah saya tau Idealisme Kami menurut saya lepas dari darimana keyakinan ini tercetus, siapa pencetusnya. Jika itu yang baik, kenapa tidak kita ambil. Karena keberhasilan pembinaan suatu calon pemimpin sesungguhnya kembali ke hati yang di pimpinnya, jika kecintaan dimana-mana. Niscaya, dialah pemimpin yang semata mengharap ridho dari Allah SWT atas apa yang diamanahkan dengannya.

Idealisme Kami 
Betapa inginnya agar bangsa ini mengetahui
Bahwa mereka lebih kami cintai daripada diri kami sendiri
Kami berbangga ketika jiwa-jiwa kami gugur
Sebagai penebus kehormatan mereka
Jika memang tebusan itu diperlukan
Atau menjadi harga bagi tegaknya kejayaan,
kemuliaan, dan cita-cita mereka
Jika memang itu harga yang harus dibayar

Tiada sesuatu yang membuat kami bersikap seperti ini
Selain rasa cinta yang telah mengharu-biru hati kami
Menguasai perasaan kami,
Memeras habis air mata kami,
Dan mencabut rasa ingin tidur dari pelupuk mata kami

Betapa berat rasa di hati kami
Menyaksikan bencana yang mencabik-cabik bangsa ini,
Sementara kita hanya menyerah pada kehinaan,
Dan pasrah pada keputusasaan

Kami ingin agar bangsa ini mengetahui,
Bahwa kami membawa misi yang bersih dan suci
Bersih dari ambisi pribadi
Bersih dari kepentingan dunia
Dan bersih dari hawa nafsu

Kami tidak mengharapkan sesuatu pun dari manusia
Tidak mengharapkan harta benda atau imbalan lainnya
Tidak juga popularitas
Apalagi sekedar ucapan terima kasih

Yang kami harapkan adalah
Terbentuknya Indonesia yang lebih baik dan bermartabat
Serta kebaikan dari Allah, Pencipta alam semesta

Bersambung

Jumat, 07 Maret 2014

Menggali kebahagiaan



A long visit , sebuah film yang menginspirasi saya agar bagaimanapun kesibukan kita di perantauan untuk tetap mengingat rumah dimana orang tua kita menanti kita disana. Bagaimanapun suasana keluargamu, bagaimanapun sikap keluargamu, bagaimanapun suasana rumahmu, janganlah sampai kita merasa bukan bagian dari rumah dan keluargamu. Ketika saya berpikir apa yang mebuat saya sama sekali tidak menderita homesick justru sangat mengherankan bagi saya. Apa normal bagi saya? Ya itu normal aneh, semua orang pasti tahu menjadi anak tunggal itu kelihatan mudah. Itu cuma ekspetasi orang praktis. Pastilah ekspetasi khusus dari saya adalah dengan seseorang yang dilahirkan sendirian, sebisanya kita memiliki keluarga baru di luar sana. Luar dan jauh adalah dua kata menjanjikan buat saya. Menjanjikan teman, persahabatan dan keluarga.  Ketika tunggal adalah yang mudah, maka saya pasti akan mempersulit nya. Salah satunya adalah menyukai naik bis. Ya memang rempong. Anda tidak suka rempong? Bagi saya wanita itu perlu nekad dan rempong. Kalau cuma imut dan lucu, boneka barbie pun begitu. Wanita harus punya kemauan, mau kemauan keras atau lunak itu terserah bagaimana Anda menempanya. :)
Ada alasan mengapa saya menyukai naik bus ketika pulang ke rumah maupun kembali ke Yogyakarta. Kalian semua mengetahui Tulungagung? Itulah rumah saya lahir dan dibesarkan hingga sampai akhirnya saya harus meninggalkan demi mencari ilmu seperti sekarang.  Butuh 9 jam untuk terus menempelkan bokong di bangku bus dengan suasana bus ala kadarnya yang minim kebersihan. Kresek muntahan di kaki, itu biasa. Anggap saja cuma bumbu stimulasi system saraf agar lebih siaga saja. -_-
Ketika semua teman lebih memilih travel ataupun kereta api untuk berpergian kembali ke kampung halaman dengan alasan lebih safety. Ataupun naik motor ala biker konvoi. Wah malah mengganggu jalur lalintas, toh pada berjejer jejer seperti koloni sel.  Tapi saya? Antimainstream pastilah. Haha. Ya saya juga penyuka kereta api, suka sekali dengan kereta api. Tapi sayangnya kereta api ke Jogja lumayan nyaman, apalah arti kenyamanan jika itu cuma membuat suasana tak berwarna. Bandingkan ketika kita punya cerita harus berdesakkan dan berdiri di bus selama 3,5 jam dalam suasana berdebu Kelud. Jauh lebih membahagiakan daripada harus duduk cantik mengintip di balik bangku gerbong yang empuk. Jangankan merasakan AC semilir dan pemandangan sawah terhampar hijau, suasana macet dengan kompleksnya mobilitas manusia modern, pemukiman sederhana di perbatasan kabupaten hingga rumah rumah minimalis di tengah keriuhan kota. Ya itulah jalur bus. Mungkin ada yang sedikit menghibur mata ,ketika melewati hutan milik Perhutani di perbatasan Jatim-Jateng . Pohon – pohon berlabel yang siap di konsumsi pabrik sekaligus bibit- bibit tumbuh berderet deret siap menggantikan. Selain menawarkan keanekaragaman penampakan social , pastilah dapat bonus ala naik roller coster jika bus yang kita tumpangi harus kebut- kebutan dengan truk muatan lintas provinsi maupun motor motor kecil seliweran. Ditambah lagi umpatan- umpatan ala sopir. Pasti taulah, apalagi saya orang Jatim jika sopirnya orang Surabaya maklumlah saya. Bukan ekstrem dan sensitif, tapi itu lah perbedaan sosial di negeriku. Indah bukan?
Ya itulah penggambaran ketika memilih naik bus yang mungkin agak melebih-lebihkan, tapi bagiku itu mengesankan, daripada banyak orang bernasehat jangan mempersulit diri. Memilih bus murah bukan mempersulit diri. Kapan lagi secara langsung bertemu macam macam orang kayak gitu, ada yang bertato macho banget, ada yang berseragam korpri rapi, ada mahasiswa dengan segala kerempongan tas nya (kayak saya sih), ada yang ibu- ibu menor. Duh , variatif sekali masyarakat ini. Sekarang ketika Anda disini, anda keluar dari lingkungan anda terbiasa. Anda yang dari lingkungan santri kenal lah begini, anda yang mahasiswa  ideal dengan bumbu agent of change kenal lah begini. Lepaslah segala pengakuan golongan, mari bercampur , mengenal mereka lebih dekat. Siapa yang berpikir kita bisa berteman dengan orang asing, berdiskusi dengan kakek yang hobi silaturrahmi ke makam wali songo, mahasiswa gagal di semester 3, seorang guru yang baru menikah kemarin, seseorang yang nekad mencari teman medsos nya di daerah yang belum pernah dia kenal. Ya syukur syukur bertemu jodoh ala FTV. Tapi, semua berawal dari niat jangan diniatkan untuk hal semacam jodoh, ini cuma bonus ketetapan dari Allah ya. hehe
Sekecil apapun itu ketidaknyamanan  maka disitulah letak kita menikmati kebahagiaan yang sesungguhnya. Masihkah kita harus berpikir dalam satu poros saja dalam zona nyaman, mari kita bergabung di perbedaan. Mereka yang klasik kita yang modern, mereka yang berilmu pas pas an kita yang lebih tau , bukanlah patokan mencapai kenyamanan. Justru ketidaknyamanan oleh orang lain  lah proses bagaimana kita bahagia. Kebahagiaan setiap orang mungkin berbeda, tapi bagi saya ketika saya harus tersenyum diantara ketidaknyamanan , itu justru membikin ketagihan.

Senin, 11 Maret 2013

Yuk agendakan masak-masak seru : Resep Kue Mangkok

Tahukan kalian kue mangkok? Kue mangkok yang terbuat dari tape singkong sangat lezat sebagai sajian kumpul kumpul bareng keluarga atau teman. Rasanya yang lezat menjadi kebanggaan tersendiri buat kue tradisional ini. Nah ini ada resep kue mangkok yang bisa kalian praktikkan di rumah kalau lagi selo banget. Check it out!
Bahan:

175 gram tepung beras

75 gram tepung terigu

100 gram tape singkong manis yang telah matang dan empuk, haluskan

200 gram gula pasir

175 ml air dingin

125 ml air panas

125 ml air soda putih/sprite

1 sdt baking powder

Pewarna makanan merah jambu secukupnya

Cara Membuat:
  1. Campur tepung terigu dengan air panas hingga tercampur rata dan licin, sisihkan.
  2. Campur tepung beras dan air dingin, remas-remas hingga tercampur rata.
  3. Masukkan tape singkong yang sudah dihaluskan dan gula ke dalam tepung beras. Aduk dengan tangan selama 8 -10 menit hingga adonan terasa licin.
  4. Tuangkan tepung terigu ke dalam adonan sedikit demi sedikit sambil terus diulen
  5. Jika masih ada adonan yang yang terasa kasar, saring.
  6. Tambahkan baking powder dan air soda, aduk rata.
  7. Tuang beberapa tetes pewarna merah jambu atau terserah sesuai selera.
  8. Tuangkan adonan dalam cetakan kue mangkok hingga hampir penuh.
  9. Masukkan dalam dandang yang telah mendidih, kukus selama kurang lebih 25 menit.
  10. Sajikan selagi hangat.
Tips:
  • Agar kue mengembang, jangan buka tutup dandang hingga 20 menit.
  • Lapisi tutup dandang dengan kain agar air rebusan tidak menetes ke kue mangkuk.