A long visit , sebuah film yang menginspirasi saya agar
bagaimanapun kesibukan kita di perantauan untuk tetap mengingat rumah dimana
orang tua kita menanti kita disana. Bagaimanapun suasana keluargamu,
bagaimanapun sikap keluargamu, bagaimanapun suasana rumahmu, janganlah sampai
kita merasa bukan bagian dari rumah dan keluargamu. Ketika saya berpikir apa
yang mebuat saya sama sekali tidak menderita homesick justru sangat
mengherankan bagi saya. Apa normal bagi saya? Ya itu normal aneh, semua orang pasti
tahu menjadi anak tunggal itu kelihatan mudah. Itu cuma ekspetasi orang
praktis. Pastilah ekspetasi khusus dari saya adalah dengan seseorang yang
dilahirkan sendirian, sebisanya kita memiliki keluarga baru di luar sana. Luar
dan jauh adalah dua kata menjanjikan buat saya. Menjanjikan teman, persahabatan
dan keluarga. Ketika tunggal adalah yang
mudah, maka saya pasti akan mempersulit nya. Salah satunya adalah menyukai naik
bis. Ya memang rempong. Anda tidak suka rempong? Bagi saya wanita itu perlu nekad dan rempong. Kalau cuma imut dan lucu, boneka barbie pun begitu. Wanita harus punya kemauan, mau kemauan keras atau lunak itu terserah bagaimana Anda menempanya. :)
Ada
alasan mengapa saya menyukai naik bus ketika pulang ke rumah maupun kembali ke
Yogyakarta. Kalian semua mengetahui Tulungagung? Itulah rumah saya lahir dan
dibesarkan hingga sampai akhirnya saya harus meninggalkan demi mencari ilmu seperti
sekarang. Butuh 9 jam untuk terus menempelkan
bokong di bangku bus dengan suasana bus ala kadarnya yang minim kebersihan. Kresek
muntahan di kaki, itu biasa. Anggap saja cuma bumbu stimulasi system saraf agar
lebih siaga saja. -_-
Ketika semua teman lebih memilih travel ataupun kereta api
untuk berpergian kembali ke kampung halaman dengan alasan lebih safety. Ataupun
naik motor ala biker konvoi. Wah malah mengganggu jalur lalintas, toh pada
berjejer jejer seperti koloni sel. Tapi
saya? Antimainstream pastilah. Haha. Ya saya juga penyuka kereta api, suka
sekali dengan kereta api. Tapi sayangnya kereta api ke Jogja lumayan nyaman,
apalah arti kenyamanan jika itu cuma membuat suasana tak berwarna. Bandingkan ketika
kita punya cerita harus berdesakkan dan berdiri di bus selama 3,5 jam dalam
suasana berdebu Kelud. Jauh lebih membahagiakan daripada harus duduk cantik
mengintip di balik bangku gerbong yang empuk. Jangankan merasakan AC semilir
dan pemandangan sawah terhampar hijau, suasana macet dengan kompleksnya
mobilitas manusia modern, pemukiman sederhana di perbatasan kabupaten hingga
rumah rumah minimalis di tengah keriuhan kota. Ya itulah jalur bus. Mungkin ada yang
sedikit menghibur mata ,ketika melewati hutan milik Perhutani di
perbatasan Jatim-Jateng . Pohon – pohon berlabel yang siap di konsumsi pabrik
sekaligus bibit- bibit tumbuh berderet deret siap menggantikan. Selain menawarkan keanekaragaman
penampakan social , pastilah dapat bonus ala naik roller coster jika bus yang
kita tumpangi harus kebut- kebutan dengan truk muatan lintas provinsi maupun
motor motor kecil seliweran. Ditambah lagi umpatan- umpatan ala sopir. Pasti taulah, apalagi saya orang Jatim jika sopirnya orang Surabaya maklumlah saya. Bukan ekstrem dan sensitif, tapi itu lah perbedaan sosial di negeriku. Indah bukan?
Ya itulah penggambaran ketika memilih naik bus yang mungkin
agak melebih-lebihkan, tapi bagiku itu mengesankan, daripada banyak orang bernasehat
jangan mempersulit diri. Memilih bus murah bukan mempersulit diri. Kapan
lagi secara langsung bertemu macam macam orang kayak gitu, ada yang bertato
macho banget, ada yang berseragam korpri rapi, ada mahasiswa dengan segala
kerempongan tas nya (kayak saya sih), ada yang ibu- ibu menor. Duh , variatif
sekali masyarakat ini. Sekarang ketika Anda disini, anda keluar dari lingkungan
anda terbiasa. Anda yang dari lingkungan santri kenal lah begini, anda yang
mahasiswa ideal dengan bumbu agent of
change kenal lah begini. Lepaslah segala pengakuan golongan, mari bercampur ,
mengenal mereka lebih dekat. Siapa yang berpikir kita bisa berteman dengan
orang asing, berdiskusi dengan kakek yang hobi silaturrahmi ke makam wali
songo, mahasiswa gagal di semester 3, seorang guru yang baru menikah kemarin,
seseorang yang nekad mencari teman medsos nya di daerah yang belum pernah dia
kenal. Ya syukur syukur bertemu jodoh ala FTV. Tapi, semua berawal dari niat jangan
diniatkan untuk hal semacam jodoh, ini cuma bonus ketetapan dari Allah ya. hehe
Sekecil apapun itu ketidaknyamanan maka disitulah letak kita menikmati
kebahagiaan yang sesungguhnya. Masihkah kita harus berpikir dalam satu poros
saja dalam zona nyaman, mari kita bergabung di perbedaan. Mereka yang klasik
kita yang modern, mereka yang berilmu pas pas an kita yang lebih tau , bukanlah
patokan mencapai kenyamanan. Justru ketidaknyamanan oleh orang lain lah proses bagaimana kita bahagia.
Kebahagiaan setiap orang mungkin berbeda, tapi bagi saya ketika saya harus
tersenyum diantara ketidaknyamanan , itu justru membikin ketagihan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar