Jumat, 07 Maret 2014

Menggali kebahagiaan



A long visit , sebuah film yang menginspirasi saya agar bagaimanapun kesibukan kita di perantauan untuk tetap mengingat rumah dimana orang tua kita menanti kita disana. Bagaimanapun suasana keluargamu, bagaimanapun sikap keluargamu, bagaimanapun suasana rumahmu, janganlah sampai kita merasa bukan bagian dari rumah dan keluargamu. Ketika saya berpikir apa yang mebuat saya sama sekali tidak menderita homesick justru sangat mengherankan bagi saya. Apa normal bagi saya? Ya itu normal aneh, semua orang pasti tahu menjadi anak tunggal itu kelihatan mudah. Itu cuma ekspetasi orang praktis. Pastilah ekspetasi khusus dari saya adalah dengan seseorang yang dilahirkan sendirian, sebisanya kita memiliki keluarga baru di luar sana. Luar dan jauh adalah dua kata menjanjikan buat saya. Menjanjikan teman, persahabatan dan keluarga.  Ketika tunggal adalah yang mudah, maka saya pasti akan mempersulit nya. Salah satunya adalah menyukai naik bis. Ya memang rempong. Anda tidak suka rempong? Bagi saya wanita itu perlu nekad dan rempong. Kalau cuma imut dan lucu, boneka barbie pun begitu. Wanita harus punya kemauan, mau kemauan keras atau lunak itu terserah bagaimana Anda menempanya. :)
Ada alasan mengapa saya menyukai naik bus ketika pulang ke rumah maupun kembali ke Yogyakarta. Kalian semua mengetahui Tulungagung? Itulah rumah saya lahir dan dibesarkan hingga sampai akhirnya saya harus meninggalkan demi mencari ilmu seperti sekarang.  Butuh 9 jam untuk terus menempelkan bokong di bangku bus dengan suasana bus ala kadarnya yang minim kebersihan. Kresek muntahan di kaki, itu biasa. Anggap saja cuma bumbu stimulasi system saraf agar lebih siaga saja. -_-
Ketika semua teman lebih memilih travel ataupun kereta api untuk berpergian kembali ke kampung halaman dengan alasan lebih safety. Ataupun naik motor ala biker konvoi. Wah malah mengganggu jalur lalintas, toh pada berjejer jejer seperti koloni sel.  Tapi saya? Antimainstream pastilah. Haha. Ya saya juga penyuka kereta api, suka sekali dengan kereta api. Tapi sayangnya kereta api ke Jogja lumayan nyaman, apalah arti kenyamanan jika itu cuma membuat suasana tak berwarna. Bandingkan ketika kita punya cerita harus berdesakkan dan berdiri di bus selama 3,5 jam dalam suasana berdebu Kelud. Jauh lebih membahagiakan daripada harus duduk cantik mengintip di balik bangku gerbong yang empuk. Jangankan merasakan AC semilir dan pemandangan sawah terhampar hijau, suasana macet dengan kompleksnya mobilitas manusia modern, pemukiman sederhana di perbatasan kabupaten hingga rumah rumah minimalis di tengah keriuhan kota. Ya itulah jalur bus. Mungkin ada yang sedikit menghibur mata ,ketika melewati hutan milik Perhutani di perbatasan Jatim-Jateng . Pohon – pohon berlabel yang siap di konsumsi pabrik sekaligus bibit- bibit tumbuh berderet deret siap menggantikan. Selain menawarkan keanekaragaman penampakan social , pastilah dapat bonus ala naik roller coster jika bus yang kita tumpangi harus kebut- kebutan dengan truk muatan lintas provinsi maupun motor motor kecil seliweran. Ditambah lagi umpatan- umpatan ala sopir. Pasti taulah, apalagi saya orang Jatim jika sopirnya orang Surabaya maklumlah saya. Bukan ekstrem dan sensitif, tapi itu lah perbedaan sosial di negeriku. Indah bukan?
Ya itulah penggambaran ketika memilih naik bus yang mungkin agak melebih-lebihkan, tapi bagiku itu mengesankan, daripada banyak orang bernasehat jangan mempersulit diri. Memilih bus murah bukan mempersulit diri. Kapan lagi secara langsung bertemu macam macam orang kayak gitu, ada yang bertato macho banget, ada yang berseragam korpri rapi, ada mahasiswa dengan segala kerempongan tas nya (kayak saya sih), ada yang ibu- ibu menor. Duh , variatif sekali masyarakat ini. Sekarang ketika Anda disini, anda keluar dari lingkungan anda terbiasa. Anda yang dari lingkungan santri kenal lah begini, anda yang mahasiswa  ideal dengan bumbu agent of change kenal lah begini. Lepaslah segala pengakuan golongan, mari bercampur , mengenal mereka lebih dekat. Siapa yang berpikir kita bisa berteman dengan orang asing, berdiskusi dengan kakek yang hobi silaturrahmi ke makam wali songo, mahasiswa gagal di semester 3, seorang guru yang baru menikah kemarin, seseorang yang nekad mencari teman medsos nya di daerah yang belum pernah dia kenal. Ya syukur syukur bertemu jodoh ala FTV. Tapi, semua berawal dari niat jangan diniatkan untuk hal semacam jodoh, ini cuma bonus ketetapan dari Allah ya. hehe
Sekecil apapun itu ketidaknyamanan  maka disitulah letak kita menikmati kebahagiaan yang sesungguhnya. Masihkah kita harus berpikir dalam satu poros saja dalam zona nyaman, mari kita bergabung di perbedaan. Mereka yang klasik kita yang modern, mereka yang berilmu pas pas an kita yang lebih tau , bukanlah patokan mencapai kenyamanan. Justru ketidaknyamanan oleh orang lain  lah proses bagaimana kita bahagia. Kebahagiaan setiap orang mungkin berbeda, tapi bagi saya ketika saya harus tersenyum diantara ketidaknyamanan , itu justru membikin ketagihan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar